Saturday, July 18, 2009

Dari hidup Bejat menjadi hidup Bejo

[Kesaksian hidup oleh Ir. Bambang Yudho MSc – Surabaya, ditulis ulang oleh Debrian]

Saya berasal dari keluarga Jawa dan orang tua saya sebagai orang Jawa memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih agama masing-masing. Orang tua saya sendiri waktu itu lebih condong kepada agama Kristen karena mengajarkan kasih. Maka anak-anaknya disekolahkan di sekolah-sekolah Kristen maupun Katholik, dan dipersilakan untuk pergi beribadah ke gereja. 

Saya sendiri tidak memilih salah satu agama karena saya lebih percaya kepada diri sendiri. Saya adalah orang yang kasar, berangasan, suka berkelahi dan suka cari "ilmu-ilmu kanuragan" untuk melindungi diri.
Setelah saya bekerja saya tambah rusak. Suka main perempuan dan suka berantem. Sampai suatu saat saya mengalami kecelakaan: menghamili tante saya sendiri ! Kami punya seorang anak. Karena calon isteri masih terhitung famili, maka semua keluarga tidak menyetujui pernikahan itu. Jadi, kami "kumpul kebo" saja !
Pada tahun 1982 saya bertemu dengan seorang wanita yang akhirnya menjadi isteri saya. Itulah awal mula ia memperkenalkan Yesus Kristus melalui kehidupan keluarganya. Saya melihat suatu keluarga yang hidup sederhana, saling mengasihi, mendoakan satu sama lainnya dah hidup di dalam takut akan Tuhan. Itu adalah kehidupan yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Saya melihat betapa najisnya saya. Dan ternyata ada kehidupan lain yang tidak saya ketahui. 

Setiap datang ke rumah pacar saya itu saya dodoakan, diajak berdoa sama-sama, selalu berdoa sebelum makan. Hal ini membuat saya tidak tahan, sehingga kami membuat janji untuk pacaran di luar rumah dia saja. Ia jadinya selalu mengajak bertemu di sebuah gereja di Manyar Rejo.
Kemudian saya pergi ke luar negeri untuk belajar dan bekerja. Kadang-kadang sampai beberapa bulan tidak pulang. Akhirnya saya mau dibaptis supaya saya dapat menikah dengan pacar saya, karena itu adalah syarat mutlak dari calon mertua. Tujuan saya menikah adalah supaya isteri saya dapat merawat anak saya yang berasal dari tante saya itu, sementara saya banyak berada di luar negeri. Isteri saya mempunyai kehidupan rohani yang baik.
Saya percaya kalau anak saya diurus ibu tiri model begini, maka anak saya akan menjadi baik. Saya mempunyai keyakinan seperti ini walaupun saya sendiri belum bertobat.
Jika saya sedang marah, isteri saya selalu menegur dengan Firman Allah. Saya yang jengkel akan berkata dengan ketus,
    "Saya tidak mau ikut-ikutan Yesusmu itu !!!"
Dan pada suatu hari Paskah isteri saya mengajak saya ke gereja, tetapi saya tidak mau. Bahkan saya mengejek,
    "Huh,... Yesus mampus ! Yesus mampus !"
Waktu itu saya akan pergi berburu. Dan kalau saya berburu, itu bukan hanya berburu binatang, tetapi juga perempuan! Sebelum pergi isteri saya berkata,
    "Wong, hari Paskah kok berburu !? Mbok, pergi ke gereja saja sama saya..."
Saya jadi kalap dan saya pukuli isteri saya sampai ia jatuh pingsan ! Dan segera saya tinggal pergi !
Baru sekitar 2 km saya keluar dari rumah, tiba-tiba badan saya gemetar. Sekujur tubuh saya dari kepala sampai perut dilanda kesakitan. Terus terang saya tidak pernah merasakan sakit yang seperti itu. Karena tidak tahan, saya segera memutar balik kendaraaan saya untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah saya lihat isteri saya sedang berdoa kuat-kuat,
    "Tuhan, kasihi suamiku karena dia tidak tahu. Ampuni dia, Tuhan...selamatkan dia di jalan !"
Saya masih marah.
    "Ayo, cepat ! Saya sakit. Saya tidak tahan lagi. Cepat bangun dan carikan obat."
Saya masuk ke kamar kecil karena perut ini sepertinya mau pecah. Isteri saya selalu berkata,
    "Kalau sakit apapun juga, ingat, sebut nama Yesus !"
Saat dalam kondisi hampir roboh, tiba-tiba ada suara di telinga saya,
    "Ingat... sebut nama Yesus. Ia sanggup menyembuhkan kamu."
Saat itu juga untuk pertama kalinya saya menyebut nama Yesus,
    "Yesus, sembuhkan saya."
Dan ketika itu juga tubuh saya pulih seperti sedia kala. Saya berlutut di kamar kecil itu. Saya menangis. Isteri saya datang dan memberi obat, namun saya tolak,
    "Tidak, tidak perlu obat lagi."
Sambil masih menangis. Saya tahu Tuhan Yesus itu hidup dan menyembuhkan saya, tetapi gengsi saya masih tinggi dan tetap meremehkan isteri saya.
    Saya masuk kamar dan mencoba tidur. Roh Kudus menjamah saya sehingga saya menangis lagi. Pada suatu malam saat saya tidur tiba-tiba ada suara yang menyuruh saya untuk membaca kitab Amsal. Saya heran, apa ada kitab yang namanya Amsal di Alkitab ? Kalau Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes, saya tahu, tetapi kitab Amsal tidak pernah dengar. Setelah saya buka Alkitab, ternyata di situ memang ada. Saya langsung merasa "deg...". Saya pikir ini bukan sembarang mimpi karena saya tidak pernah tahu apa itu Amsal, dan ternyata memang benar-benar ada.
Saya baca Amsal 1:7,
    "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."
Dari situ saya tahu bahwa selama ini saya sombong, merasa diri pandai, pintar di sekolah, sukses bekerja, gaji besar dll. Pada esok harinya saya berkata kepada isteri,
    "Nanti hari Minggu kita ke gereja."
Dia kaget tetapi diam saja.
Ketika sampai di sebuah gereja di Manyar Redjo, Surabaya, yang berkhotbah adalah Ev. S. Damaris dari Bandung. Ternyata ia menyampaikan firman yang terambil dari Amsal 1:7 ! Saya jadi penasaran. Sorenya saya ikut kebaktian lagi di sebuah gereja di Ngagel. Di situ firman Tuhan yang disampaikan juga sama persis, Amsal 1:7 lagi !
Opa dari isteri saya adalah seorang pendeta. Akhirnya kami pergi ke rumahnya. Setelah tiba di rumahnya, tanpa basa-basi ia bernubuat,
    "Tuhan akan memakai kamu. Ingat apa yang tertulis dalam Amsal 1:7 ! Baca dan ingat itu selalu !"
Bukan kebetulan apabila tiga orang hamba Tuhan memberikan firman Tuhan dari pasal dan ayat yang sama pada satu hari. Dari situ saya tahu satu hal yang luar biasa, Allah itu ada dan Ia mau menyalurkan berkatNya melalui saya. Ketika itulah saya baru mengaku dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya secara pribadi.
Saya kembali lagi ke luar negeri karena pada waktu itu saya bekerja di perusahaan Inggris. Tetapi sebetulnya saya rindu untuk tinggal dan bekerja di Indonesia. Saya merasa kesepian, ingin ketemu isteri dan beribadah bersama-sama. Hal-hal yang indah ingin saya temukan di gereja.
Sebagai tenaga ahli di bidang pengelasan logam untuk daerah tropis, saya banyak berkeliling ke berbagai negara tropis. Negara-negara tropis yang saya pernah kunjungi antara lain : negara-negara Asean, Afrika, Amerika Latin. Kalau berada di Afrika atau Brazil, saya bisa tinggal di sana selama 6 bulan. Kebanyakan saya berada di Jerman.
Saya rindu untuk pulang ke Indonesia, tetapi pekerjaan saya ini hampir tidak memungkinkan saya pulang ke Indonesia. Gaji saya sudah cukup tinggi. Lebih dari Rp. 12 juta/bulan pada sekitar tahun 1985. Saya mencari-cari pekerjaan di Jakarta, Bandung, Surabaya, tetapi tidak dapat. Karena ilmu yang saya miliki hampir dikatakan langka, saya ajukan gaji mulai dari Rp. 10 juta. Mereka menertawakan saya karena dipandang permintaan saya terlalu tinggi. Lalu saya turunkan sampai Rp. 5 juta. Mereka masih tidak berani membayar gaji sebesar itu.
Saya berkata kepada isteri saya,
    "Kalau Tuhanmu hebat, bisa tidak Tuhanmu memulangkan saya ke Indonesia dan saya bisa bekerja ?"
Isteri saya menjawab,
    "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Bahkan kalau kamu kerja sendiripun pasti bisa."
Kemudian ia mengajak saya ke Persekutuan Diakonia. Saya ingat waktu itu hari Selasa. Di persekutuan itu ada ibu-ibu yang biasa jualan nasi pecel, tukang cuci, dll. Pokoknya mereka adalah orang-orang sederhana dari kalangan ekonomi lemah.
Empat hari setelah didoakan, Tuhan menjawab. Saya dipanggil boss ke Singapura. Ia berasal dari Dusselldorf, Jerman. Seharusnya saya harus pergi ke Afrika lagi, tetapi ia menyuruh saya pergi ke Filipina karena ada pekerjaan yang harus saya lakukan di sana. Bila berhasil, ia akan menaikkan gaji saya 20%. Dengan senang hati saya langsung berangkat ke Filipina. Setelah sampai di sana ternyata bukan pekerjaan yang seperti yang saya bayangkan. Saya tidak disambut baik oleh Lorry, kawan saya, yang biasanya bersikap baik terhadap saya. Krah baju saya ditarik, badan saya ditendang masuk ke mobil. Di dalam mobil itu sudah ada bodyguard dengan senjata M 16. Kepala saya dipukuli dengan pistol. Akhirnya saya dibawa ke sebuah warung kopi di daerah pelacuran dan ia berkata,
    "Kamu berani-beraninya datang ke Filipina  ! Kamu tahu siapa saya ? Kamu bisa saya bunuh setiap waktu !"
Saya menjawab,
    "Kamu adalah sahabat saya."
Ternyata masalah yang harus saya selesaikan bukanlah masalah dinas. Karena boss saya itu berselingkuh dengan Filipina, hubungan bisnis dengan Lorry yang sudah berjalan bertahun-tahun diputuskan secara sepihak tanpa alasan dan dialihkan kepada adik wanita simpanannya itu. Mengingat kekacauan di Filipina pada waktu itu, apabila saya mati dibunuhnya, tidak akan ada jejak.
Saya katakan,
    "Saya ini tidak mengerti apa-apa. Saya disuruh datang ke sini untuk menyelesaikan suatu masalah dan gaji saya akan dinaikkan 20%."
Lorry menahan paspor saya dan ia tahu kalau nama saya Bambang Yudho. Sebelumnya ia pikir nama saya Irbambang, karena dalam kartu nama saya tertulis Ir.Bambang Yudho. Ternyata ia sudah pergi ke dukun (orang pintar dan dukun itu berkata kepadanya bahwa akan ada seorang Kristen yang baik yang nama awalnya "B" dari luar negeri akan menolongnya.
Saya berkata,
    "Jesus Christ, help me !"
Begitu ia mendengar saya menyebut nama Yesus,  ia sangat kaget.
    "Lho, kamu orang Indonesia 'kan ? Kamu bukan orang Kristen 'kan ?"
    "Bukan, saya orang Kristen !" sahut saya.
Ia minta bukti dan saya tunjukkan KTP saya, baru kemudian ia percaya. Kemudian ia berkata,
    "Bambang, kamu adalah oang yang saya tunggu. Sekarang telpon boss kamu dan beritahu bahwa urusan ini sudah selesai dan minta gajimu naik 20%."
Melalui telpon ia bicara dengan boss saya dan menyatakan bahwa urusan sudah selesai. Boss sangat kaget karena ia sendiri tidak berani ke Filipina berhubung ia diancam akan dibunuh. Setelah selesai bicara di telpon Lorry berkata kepada saya,
    "Bambang, mengapa kamu ikut-ikutan bekerja pada orang "gombal" macam boss kamu ? Mengapa kamu tidak usaha sendiri saja ?"
Saya katakan bawa saya sedang berdoa dan didoakan untuk bisa bekerja sendiri dan pulang ke Indonesia, tetapi saya tidak punya modal. Kemudian ia berkata,
    "Kamu butuh modal berapa ? Saya punya uang US $ 250.000.- (Rp. 600 juta saat ini). Uang itu akan saya berikan kepadamu dengan catatan, kalau kamu sudah maju, tolong uang itu dikembalikan ke rekening di Coconut Bank atas nama Ernitan. Dan kamu harus pulang dari Filipina hari Jumat."
Pukul 10.00 pagi sudah harus sampai di airport.
Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah ini dibenarkan atau tidak ? Menerima uang dari pemberontak itu halal atau tidak ? Saya telpon ke gembala sidang suatu gereja di Darmo, Surabaya. Saya bertanya apakah boleh menerima uang itu. Gembala sidang saya menyatakan bahwa hal itu dapat dibenarkan mengingat pengalaman bangsa Israel saat keluar dari Mesir : mereka diberi mas, perak dan perhiasan macam-macam karena Allah menggerakkan orang Mesir untuk bermurah hati.
Akhirnya saya terima tawaran itu dan pada hari Jumatnya seorang bodyguard datang mengantarkan uang itu dalam sebuah kaleng deterjen. Kemudian saya diantarkan ke airport, bahkan sampai duduk di kursi pesawat. Semua penumpang lain di pesawat itu heran memperhatikan saya. Mereka takut karena saya dikawal pasukan bersenjata lengkap.
Setelah tiba di Singapura saya telpon isteri untuk memberitahu bahwa saya sudah mendapat modal untuk buka usaha sendiri. Bukan hanya itu. Kawan-kawan saya di Medan, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin, Samarinda dan Jakarta mengirimkan saya uang puluhan ribu dollar. Akhirnya terkumpul modal yang sangat banyak untuk saya gunakan bagi usaha saya.
Anehnya, walaupun mereka belum tahu barang apa yang akan saya produksi, mutu hasil produksi belum jelas, perusahaan saya juga belum didirikan, mereka toh berani memberi saya modal. Mereka memberi hanya karena Tuhan menggerakkan para dukun yang mereka datangi untuk berkata,
    "Bambang Yudho itu orangnya baik."
Saya mulai mendirikan perusahaan pada tahun 1990 dan mulai mengalami kemajuan, sehingga saya dapat mengembalikan modal kepada teman saya, Lorry, di Filipina. Setelah semuanya lunas saya pergi ke Filipina untuk menemuinya, untuk mengucapkan terima kasih. Selain itu saya juga ingin mencari distributor karena saya mulai mengekspor barang-barang ke sana. Tetapi Lorry sudah tidak ada jejaknya lagi. Saya bertemu dengan adik perempuannya. Ia menangis. Saya bertanya,
    "Lho, selama ini saya mengirim uang itu kemana larinya ?"
Ia menjawab bahwa nama Erni itu adalah namanya dan uang yang saya kirim masuk ke rekeningnya. Jadi sewaktu Lorry memberikan nomor rekening itu kepada saya dulu, ia memakai nama rekening adiknya.
Akhirnya saya mengetahui bahwa Tuhan itu sanggup menggerakkan orang-orang yang tidak percaya untuk memberikan modal kepada saya. Bukan hanya modal yang Tuhan berikan, tetapi yang lebih membahagiakan adalah saya bisa kembali ke Indonesia, bekerja di Indonesia, dan terlebih lagi saya dapat melayani Tuhan sebagai hambaNya bersama dengan keluarga.
Pekerjaan saya adalah sebagai konsultan di bidang pengelasan logam untuk negara-negara tropis. Selain itu saya juga memasarkan kawat las khusus yang saya produksi sendiri. Juga saya memasarkan mesin-mesin las buatan Jerman beserta perlengkapan-perlengkapan untuk mengelas. Sampai saat ini saya mempunyai 23 distributor di seluruh Indonesia.
Pada awal usaha saya di Surabaya semua hal saya tangani sendiri. Ternyata di dalam bisnis itu yang namanya korupsi dan kolusi bukan hanya terjadi di kalangan pemerintahan saja, tetapi hampir di semua perusahaan swasta yang saya hubungi. Orang-orang di bagian Pembelian dan Teknik semuanya mata duitan. Pokoknya, apabila saya mau memberi uang, barang saya bisa masuk. Saya bergumul untuk ini. Kok saya harus begini ? Akhirnya saya berdoa kepada Tuhan dan Ia memberikan hikmat yang luar biasa,
    "Lepaskan bisnismu dan berikan kepada orang lain."
Akhirnya saya memutuskan untuk berbisnis hanya melalui para distributor. Dalam mencari distributor saya mencari orang Kristen yang "bahasanya" sama : bahasa kasih, kekudusan, tidak korupsi atau kolusi, tidak boleh menyuap.
Saya kumpulkan semua distributor dan saya beri training. Dalam memberikan training saya meminta pertolongan Tuhan, bukan dari kepandaian sendiri. Nah, ternyata bisnis secara jujur masih sangat memungkinkan, asalkan kita ikut cara Tuhan.
Kami membuat program beasiswa. Semua distributor membuat program yang sama. Apabila saya memberi uang sebagai bonus untuk pencapaian target mereka, atau memberi mereka paket wisata ke Bangkok, maka itu bisa disalah-gunakan untuk main perempuan atau macam-macam hal yang tidak benar. Itu adalah dosa ! Lalu jalan keluarnya adalah saya dengan sengaja menaikkan harga, misalnya harga Rp. 100 dinaikkan menjadi Rp. 120. Uang ini saya simpan dan saya beritahu mereka bahwa uang ini untuk beasiswa bagi anak-anak mereka.
Kecuali itu sisa uang yang ada saya pergunakan untuk program training ke Singapura, Malaysia, atau Filipina. Semua biaya ditanggung perusahaan. Di sana mereka saya serahkan kepada orang Kristen. Mereka diberi training, dijamu dengan baik dan diberi firman Tuhan. Saya tidak peduli distributor ini orang Kristen atau bukan. Biasanya kalau sudah di luar negeri, mereka semua pada "khutuk" (jinak).
Waktu mereka pulang, mereka sangat bangga terhadap perusahaan saya, sehingga kalau ada saingan akan masuk, mereka bertanya kepada pemasok saingan ini, apakah mereka berani memberi beasiswa dan training ke luar negeri seperti perusahaan saya. Karena itu kalau barang tidak segera diorder, istrinya pasti menegur,
    "Pak, kok sudah lama tidak order barang ? Malu lho, anak-anak kita sudah diberi bea siswa."
Karena bapaknya diingatkan lagi, ia segera mengorder barang dari perusahaan saya. Mengapa demikian ? Karena perusahaan saya melibatkan keluarga.
Dengan sikap yang jujur, program manajemen yang baik, serta dipimpin oleh Roh Kudus, kami bisa maju. Bahkan para pelanggan mengaku mereka sangat senang dengan produk kami. Oleh karena pertolongan Tuhan, pendapatan saya per bulan dari perusahaan ini sudah jauh lebih besar dibandingkan pada waktu bekerja di luar negeri dulu.
Perusahaan saya tidak terlalu besar tetapi saya memakai sistem komputerisasi. Kami memakai standard prosedur. Berdasarkan prosedur yang telah baku ini para karyawan diperlengkapi dengan wewenang sesuai jenjang masing-masing. Oleh karena sistem yang sudah berjalan ini saya datang ke kantor tidak lebih dari dua jam dalam sebulan, yaitu pada hari Sabtu untuk menyampaikan renungan Firman Tuhan. Selebihnya saya serahkan kepada para manajer dan manajer ini berurusan dengan semua distributor dan segala tetek bengek urusan kantor. Saya memberikan training kepada mereka tentang motivasi, kepemimpinan, komunikasi, manajement dll. Saya memiliki paket-paket training yang saya dapatkan dari perusahaan tempat saya bekerja dulu dan waktu itu boss saya adalah orang Yahudi.
Prinsip saya bekerja di manapun, yang pertama adalah untuk Tuhan dan yang kedua untuk keluarga. Prinsip saya, keluarga lebih utama daripada pekerjaan. Kami mengadakan waktu-waktu khusus dengan anak-anak. Dan anak saya yang merupakan hasil kumpul kebo dengan tante saya dulu, menganggap isteri saya seperti ibu kandungnya sendiri. Istri sayapun demikian juga terhadapnya, sehingga anak saya tidak merasa tertolak atau dianak-tirikan.
Dalam melayani, saya selalu bersama-sama isteri. Ke gereja selalu bersama-sama anak-anak. Saya melayani pekerjaan Tuhan, karena saya ingin "nyaur" (membalas) kasih Tuhan, karena hidup saya yang dahulu rusak telah Tuhan pulihkan. Saya sering melayani anak-anak muda. Kalau ada yang hidupnya berantakan, saya dulu pernah mengalami, sehingga saya bisa mendekati dan mengerti mereka. Begitu juga dengan berkat yangTuhan berikan kepada keluarga kami, kami bagikan dan salurkan kepada orang-orang pedesaan. Saya masuk menjadi anggota Small Industrial Research Institute (SIRI) yang berpusat di India. Melalui pelayanan ini saya memberikan pelatihan untuk orang-orang pedesaan. Kami mengajarkan mereka untuk membuat obat nyamuk, membuat cat, membuat obat anti bau badan, minyak angin atau balsem, minuman ringan dll. Kami juga membangun gedung gereja di Pohgaji dan juga Balai Latihan Kerja (BLK). Di BLK itu kami perlengkapi dengan mesin bubut, mesin las dll. Tujuan pelayanan kami adalah meningkatkan taraf hidup orang-orang desa dengan memberikan ketrampilan dan pekerjaan mereka sehingga tidak keluar dari desanya mencari pekerjaan.
Source : www.kristenonline.com

No comments:

Post a Comment